Melahirkan Pemimpin Yang memiliki Kualitas dan Integritas Yang Tinggi Melalui Kaderisasi Dalam Kampus
Oleh: I Kadek Andre Nuaba (Esay Competition)
Pemimpin adalah orang yang
melakukan kegiatan atau proses mempengaruhi orang
lain dalam suatu situasi tertentu melalui proses
komunikasi, yang diarahkan guna mencapai tujuan / tujuan-tujuan tertentu [1] . Untuk menjadi seorang pemimpin, tentu harus memiliki karakter yang
sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pengikutnya, karena dalam hal ini pengikut sepenuhnya menyerahkan kepercayaannya kepada pemimpinnya untuk menentukan arah dalam mencapai tujuan. Pembentukan karakter seorang pemimpin dapat dilakukan dalam berbagai lembaga salah satunya yaitu; kampus.
Kampus merupakan wadah atau sarana pusat pendidikan dengan taraf lebih tinggi dan sebagai salah satu center
of intellectuality dapat dikatakan sebagai lumbung kaderisasi pemimpin masa depan bangsa. Subjek dari kampus itu sendiri adalah mahasiswa.
Mahasiswa merupakan kaum intelektual yang
mampu menjadi katalis masyarakat dalam menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah dan sebagai sosok yang membawa perubahan terhadap bangsa. Secara formal
kampus memang diartikan sebagai media
pembelajaran, tapi disamping itu kampus juga memiliki peransebagai pembentuk kader-kader bangsa dalam melahirkan pemimpin yang memiliki kualitas dan integritas yang
tinggi. Kaderisasi itu penting dengan tujuan untuk menjaga keberlangsungan munculnya calon pemimpin bangsa, intelektual berkualitas, dan insan yang peka terhadap persoalan bangsa. Tapi mengapa harus mahasiswa? Mengapa harus di kampus? Kaderisasi calon pemimpin bangsa selama ini hanya dilakukan di dua tempat, akademi militer dan universitas. Secara sistemik mungkin di militer sudah di-set dan Menjadi bagian dari menu wajib, sementara bagi mahasiswa hal ini adalah pilihan, apakah mahasiswa itu
sendiri mau dan aktif dalam mengikuti organisasi atau tidak[2].
Organisasi adalah kesatuan
(entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan
yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar
yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan [3]. Dengan aktif dalam setiap kegiatan oganisasi kampus maka mahasiswa tidak hanya mendapatkan gelar sarjana saja, tapi dapat menjadikan dirinya sebagai kader bangsa yang memiliki kualitas dan integritas yang tinggi. Tapi dalam mewujudkan hal itu jika dilihat dari realita yang
terjadi sekarang, rasanya sulit untuk megembalikan fungsi kampus yang sebagai wadah untuk membentuk kader dalam melahirkan pemimpin bagsa yang
dicita-citakan, karena melihat pada pergeseran peran kampus di Indonesia saat ini. Kampus yang
seharusnya berperan sebagai kawah kaderisasi pemimpinb angsa, ternyata hanya berperan sebagai penghasil “produk”
mahasiswa yang terampil secara teknis dan siap pakai oleh perusahaan. Dalam aktivitasnya, ada kecenderungan mahasiswa belakangan ini makin lama makin individualis bahkan hedonis. Kampus hanya dijadikan ajang berburu gelar sarjana seraya mencari pacar. Waktu senggang di luar kuliah pun sebagian mahasiswa hanya mengisinya dengan main games,
kencan, ngobrol, pesta; pendeknya hanya berhura-hura belaka. Akhirnya mahasiswa yang kutu buku, rajin diskusi, dan peduli terhadap masa depan bangsa dan Negara menjadi barang langka.
Kesulitan
untuk mendapatkan kader bangsa sebagai calon pemimpin yang
berkualitas dan berintegritas tinggi akan semakin berkembang jika tidak ada usaha yang dilakukan dalam
membenahi hal tersebut. Jadi sebenarnya disinilah letak strategis kampus-kampus perguruan tinggi sebagai penyuplai calon Pemimpin nasional. Mahasiswa harus diajak melek dengan permasalahan yang
membelenggu bangsa seperti sekarang ini, dan mahasiswa harus diajak peka untuk merubah tatanan masyarakat yang
salah (agent of change), untuk kemudian menyatu sebagai gerakan moral (moral
force), sebagai pengawal demokrasi, sebagai mata dan telinga rakyat; sebagai penyambung lidah rakyat. Namun, iklim kehidupan masyarakat yang
terlanjur sangat pragmatis, menyebabkan secara umum kehidupan mahasiswa saat ini masih stagnan. Hanya segelintir mahasiswa yang berani dan sanggup melawan arus pramatisme yang hegemonic dan kemudian tertarik terjun menjadi aktivis yang peduli akan keadaan bangsa ini.
Melihat keadaan bangsa saat ini, dapat dikatakan bahwa Indonesia masih mempuyai segudang masalah yang belum terselesaikan,
misalnya terjadi kesenjangan ekonomi,
pembangunan di daerah terpencil yang belum terlaksana dengan maksimal, masih terjadinya tawuran antar suku, banyaknya pejabat Negara yang
melakukan korupsi, dan lain sebagainya. Artinya,
Indonesia saat ini berada pada situasi yang kritis, sehingga sangat membutuhkan pemimpin yang mampu meminimalisir bahkan menyelesaikan masalah-masalah
yang selalu menjadi polemic tersebut.
Menyelesaikan permasalahan Negara
bukanlah sesuatu yang mudah,
dimana membutuhkan waktu yang relative cukup lama, dan untuk memilih pemimpin yang memiliki kualitas dan integritas yang
tinggi sangatlah sulit, karena sebagian besar calon pemimpin Negara
yang mencalonkan diri dari berbagai parpol hanya mengumbar janji saat kampanye saja, tapi realita yang terjadi pada saat masa tugasnya hal itu menjadi janji yang
berjamur, karena mereka yang terpilih lebih sering mementingkan kepentingan pribadi dari pada memperhitungkan kepentingan masyarakat (kurang merakyat). Itulah sebabnya Indonesia selalu terbelenggu dalam masalah yang rumit.
Maka saat ini Indonesia perlu berbenah dan menata pemerintahan dengan
pemimpin-pemimpin yang benar-benar dibutuhkan yang sesuai dengan keadaan
Indonesia sekarang.
Mendapatkan pemimpin yang berkualitas dan memiliki integritas tinggi tentu
memerlukan persiapan dan waktu yang relatif tidak singkat, maka dari itu
persiapan tersebut harus dimatangkan dalam lingkungan kampus, dimana mahasiswa
harus benar-benar mampu melatih dirinya agar siap menjadi kader bangsa yang
mampu memimpin Negara ini dengan baik. Dengan itu setiap Universitas yang ada hendaknya
mewajibkan setiap mahasiswanya untuk mengikuti dengan aktif salah satu dari
sekian banyak organisasi kampus yang ada agar setiap mahasiswa memiliki
pengalaman untuk menjadi seorang pemimpin meskipun dimulai dari ruang lingkup organisasi
kampus, hal ini juga dapat menjadi persiapan mahasiswa untuk ke jenjang kepemimpinan
yang lebih tinggi (pemimpin Negara), atau mahasiswa hendaknya menjadi aktivis
yang aktif dalam setiap kegiatan-kegiatan yang bersifat mempertahankan suatu
keputusan bersama misalnya demonstrasi legal, tujuannya agar mahasiswa mampu
mengikuti perkembangan bangsa Indonesia sehingga ketika duduk dikursi
pemerintahan memiliki mental yang kuat dalam menghadapi
permasalahan-permasalahan Negara dan untuk melatih mahasiswa agar tidak
terjerumus ke dalam pemimpin yang korup, mahasiswa dapat melatih dirinya dalam
organisasi yang diikutinya, dimana didalam organisasi tersebut mahasiswa
belajar menjadi pemimpin yang terbuka, tegas, disiplin dan ketat dalam
mengimlementasikan aturan-aturan organisasi serta menjalankan sangsi sesuai
dengan yang telah ditetapkan dalam organisasi tersebut, sehingga mahasiswa yang
merupakan kader bangsa ketika bersetatus sebagai pemimpin Negara akan memiliki
kebiasaan yang baik dalam menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin dan ketika
dihadapi dengan “uang gelap” maka akan
mampu menahan diri untuk tidak menerimanya karena telah terlatih ketika berada
dalam sebuah organisasi kampus untuk menjadi pemimpin yang terbuka kepada
anggotanya dan patuh terhadap aturan, dan masih banyak contoh-contoh tindakan
lainnya yang dapat diimplementasikan dalam lingkungan kampus atau pada mahasiswanya
sendiri sebagai usaha dalam melahirkan pemimpin Negara yang memiliki kualitas
dan integritas yang tinggi melalui kaderiasi dalam kampus.
Dengan mengimplementasikan sedikit solusi diatas ke dalam lingkungan kampus
dan dalam diri mahasiswa, maka Indonesia akan memiliki persiapan yang sedikit
lebih matang dalam menuju pemimpin Indonesia yang berkualitas dan memiliki
integritas tinggi. Sehingga Indonesia akan memiliki banyak kader-kader bangsa
yang siap untuk menjadi pemimpin-pemimpin Negara yang dicita-citakan bangsa
Indonesia sejak dahulu dan keuntungan lain yang didapatkan adalah dapat mengembalikan
peran kampus kepada fungsi yang sebenarnya yaitu sebagai media pembelajaran
formal dan sebagai lumbung atau wadah kaderisasi masa depan bangsa menuju Indonesia jaya.
[1].
EnsiklopediaAdministrasi.(Yogyakarta: Dosen Balai Pembina
Administras), Universitas Gajah Mada
[2]. Arwin Lubis. Buku
Sejarah Terpadu Kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (Jakarta: Erlangga)
[3]. Stephen P. Robbins.
Teori Organisasi Struktur,
Desain, dan Aplikasi, (Jakarta:
Arcan: 1994), hlm.4
Komentar
Posting Komentar